Pelatihan Saja Tidak Cukup: Pentingnya Pendampingan Pembelajaran

Gambar
Follow up suatu pelatihan tidak banyak terjadi dari berbagai pelatihan yang pernah diikuti penulis. Namun tidak seperti pelatihan yang baru-baru ini , Pelatihan Pembelajaran Bermakna (BTL3) yang diselenggarakan DBE 3 memang beda . Karena setelah melakukan pelatihan peserta masih dituntut untuk melaksanakan program tindak lanjut berupa pendampingan. Pendampingan Pembelajaran (Pexels.com/rdne) Menurut Dr Asep S. Muhtadi kegiatan tindak lanjut itu bermakna strategis, sebab kegiatan tersebut menjamin penerapan hasil pelatihan sebagai sesuatu yang mesti berkelanjutan. Kegiatan tindak lanjut yang berupa pendampingan bertujuan untuk menguatkan penerapan hasil pelatihan dalam proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan pembelajaran seperti yang dilaksanakan DBE3 dalam pelatihan tersebut patut mendapatkan acungan jempol. Karena dalam kegiatan pembelajaran tersebut sangat menyenangkan dan bermakna, yang sebenarnya sangat cocok dengan arti pembelajaran yang sebenarnya. Demikian pula pada saat pesert...

Dinamika Angin di Indonesia: Dari Skala Lokal hingga Global

 

Tekanan udara bersifat heterogen; ia tidak sama di setiap tempat. Perbedaan gradien tekanan inilah yang memicu pergerakan massa udara. Secara fundamental, udara bergerak dari area bertekanan tinggi ke area bertekanan rendah, yang kita kenal sebagai angin.

Gambar mountain and valley breezes

Dalam studi meteorologi modern, pola angin di Indonesia dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara topografi lokal dan sirkulasi atmosfer global.

1. Angin Monsun (Sirkulasi Musiman)

Angin Monsun adalah sirkulasi angin periodik yang berbalik arah minimal $120^{\circ}$ setiap musim akibat perbedaan termal antara benua Asia dan Australia.

  • Monsun Asia (Barat Laut): Terjadi pada Oktober – April. Massa udara membawa uap air melimpah dari Samudra Pasifik dan Laut Cina Selatan, menyebabkan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

  • Monsun Australia (Tenggara): Terjadi pada April – Oktober. Bersifat kering karena berasal dari daratan Australia yang gersang, memicu musim kemarau.

Isu Kekinian: Saat ini, siklus Monsun sering mengalami anomali akibat fenomena El Niño dan La Niña (ENSO) serta Indian Ocean Dipole (IOD), yang menyebabkan durasi musim hujan atau kemarau menjadi tidak menentu (pergeseran musim).


2. Angin Lokal

Angin lokal dipicu oleh perbedaan temperatur dan tekanan pada area geografis yang terbatas.

A. Angin Darat dan Angin Laut

Terjadi karena perbedaan kapasitas panas antara daratan dan perairan.

  • Angin Laut (Siang Hari): Daratan lebih cepat panas dibandingkan laut, tekanan di darat rendah, sehingga udara dingin dari laut bergerak ke darat.

  • Angin Darat (Malam Hari): Daratan lebih cepat dingin, sehingga udara bergerak dari darat menuju laut yang tekanannya lebih rendah.

B. Angin Lembah dan Angin Gunung

  • Angin Lembah (Siang Hari): Lereng gunung terkena matahari lebih cepat, sehingga udara bergerak naik dari lembah menuju puncak.

  • Angin Gunung (Malam Hari): Puncak gunung mendingin lebih cepat, massa udara yang berat turun kembali ke lembah.


  • Shutterstock

C. Angin Fohn (Angin Jatuh)

Angin ini bersifat kering dan panas. Terjadi ketika massa udara dipaksa naik ke puncak pegunungan (hujan orografis) lalu turun di sisi balik gunung (leeward side) sambil mengalami pemanasan adiabatik. Di Indonesia, angin ini memiliki nama lokal yang khas:

  • Angin Bahorok (Sumatera Utara)

  • Angin Gending (Probolinggo, Jawa Timur)

  • Angin Kumbang (Cirebon/Brebes)

  • Angin Brubu (Sulawesi Selatan)

  • Angin Wambrau (Papua)


3. Fenomena Cuaca Ekstrem: Puting Beliung dan Tornado

Dalam konteks Indonesia, fenomena angin berputar kencang lebih sering dikenal sebagai Angin Puting Beliung (skala kecil-menengah yang dihasilkan awan Cumulonimbus). Secara global, Tornado adalah pusaran udara yang lebih destruktif dan besar.

Fenomena ini terjadi akibat ketidakstabilan atmosfer yang ekstrem ketika massa udara panas-lembab bertemu dengan udara dingin-kering. Di tengah ancaman krisis iklim, frekuensi dan intensitas angin kencang di Indonesia tercatat mengalami peningkatan yang signifikan dalam satu dekade terakhir menurut data BMKG.


Daftar Pustaka Terkini (Referensi):

  1. Aldrian, E., dkk. (2021). Meteorologi dan Klimatologi di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

  2. Ahrens, C. D., & Henson, R. (2022). Essentials of Meteorology: An Invitation to the Atmosphere. Cengage Learning.

  3. Hidayat, R. (2023). Dinamika Atmosfer Benua Maritim Indonesia. IPB Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Air Hujan sebagai Sumber Air Rumah Tangga di Daerah Kering”

Meningkatkan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus

Apa Itu Tanah? Pengertian, Proses Pembentukan, dan Manfaatnya Bagi Kehidupan