Pelatihan Saja Tidak Cukup: Pentingnya Pendampingan Pembelajaran

Gambar
Follow up suatu pelatihan tidak banyak terjadi dari berbagai pelatihan yang pernah diikuti penulis. Namun tidak seperti pelatihan yang baru-baru ini , Pelatihan Pembelajaran Bermakna (BTL3) yang diselenggarakan DBE 3 memang beda . Karena setelah melakukan pelatihan peserta masih dituntut untuk melaksanakan program tindak lanjut berupa pendampingan. Pendampingan Pembelajaran (Pexels.com/rdne) Menurut Dr Asep S. Muhtadi kegiatan tindak lanjut itu bermakna strategis, sebab kegiatan tersebut menjamin penerapan hasil pelatihan sebagai sesuatu yang mesti berkelanjutan. Kegiatan tindak lanjut yang berupa pendampingan bertujuan untuk menguatkan penerapan hasil pelatihan dalam proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan pembelajaran seperti yang dilaksanakan DBE3 dalam pelatihan tersebut patut mendapatkan acungan jempol. Karena dalam kegiatan pembelajaran tersebut sangat menyenangkan dan bermakna, yang sebenarnya sangat cocok dengan arti pembelajaran yang sebenarnya. Demikian pula pada saat pesert...

Rahasia Panjang Umur dari Blue Zones, Gaya Hidup yang Bisa Diadopsi Saat ini

Di tengah gempuran gaya hidup modern yang serba instan dan penuh tekanan, harapan hidup manusia justru meningkat di beberapa wilayah dunia yang disebut Blue Zones. Lima wilayah bernama Blue Zones, Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), Nicoya (Kosta Rika), Ikaria (Yunani), dan Loma Linda (AS), mencuri perhatian. Di sini, populasi centenarian (usia 100+ tahun) 10 kali lebih tinggi daripada rata-rata global. Kunci umur panjang mereka bukan terletak pada suplemen mahal, melainkan pola hidup sederhana yang terbukti ilmiah. Menjelang 2025, prinsip-prinsip ini justru relevan untuk melawan gaya hidup instan dan stres era digital.

1. Dominasi Makanan Nabati, Dari Ladang ke Piring

95% asupan penduduk Blue Zones berasal dari tumbuhan: sayuran segar, kacang-kacangan, biji utuh, dan buah-buahan. Konsumsi daging hanya sesekali, sekitar 5 kali sebulan, dengan porsi mini. Di Okinawa, ubi ungu, sumber antioksidan tinggi, menjadi makanan utama (Willcox et al., 2004), sedangkan warga Sardinia mengandalkan roti gandum fermentasi (pane carasau) dan minyak zaitun murni (Poulain et al., 2004).

Adaptasi di 2025: Tren makanan berbasis tumbuhan diproyeksikan semakin merakyat. Coba substitusi protein hewani dengan olahan kedelai atau jamur.

2. Aktivitas Fisik Organik, Bukan di Gym, Tapi dalam Ritme Harian

Lansia di Blue Zones jarang mengangkat barbel. Mereka tetap gesit lewat aktivitas alami: berjalan kaki ke pasar, berkebun, atau mengurus hewan ternak. Di Nicoya, banyak warga tua masih aktif bekerja secara fisik, seperti memanen hasil bumi (Buettner, 2008).

Adaptasi di 2025: Sisipkan gerakan dalam rutinitas. Contohnya, gunakan tangga ketimbang lift atau bersepeda ke warung.

3. Ikatan Sosial dan Tujuan Hidup,  Formula Anti-Lansia

Okinawa mengenal ikigai (alasan untuk bangun pagi) dan moai (kelompok dukungan seumur hidup). Keduanya menciptakan rasa memiliki dan mengurangi stres. Riset Harvard menyebut, hubungan sosial yang kuat meningkatkan harapan hidup setara dengan menghindari rokok (Holt-Lunstad et al., 2010).

Adaptasi di 2025: Bangun komunitas via grup hobi virtual atau kegiatan sosial lingkungan.

4. Hidup Santai, Perlambat Waktu, Panjangkan Usia

Masyarakat Blue Zones tidak hidup dalam tekanan deadline. Di Ikaria, tidur siang dan jam makan yang panjang adalah budaya (Chrysohoou et al., 2011). Ritual keagamaan atau meditasi juga menjadi sarana melepas stres.

Adaptasi di 2025: Luangkan waktu untuk me-time, seperti meditasi 10 menit via aplikasi.

Usia tua tetap semangat (Paxels.com/Kampus Production)

5. Prinsip Moderasi,  Sedikit Tapi Berkualitas

Segelas anggur merah (Cannonau) Sardinia, kaya polifenol penangkal radikal bebas, dikonsumsi rutin dalam takaran kecil (Estruch et al., 2013). Sementara komunitas Adventis di Loma Linda menerapkan puasa intermiten alami dengan mengakhiri makan sebelum petang (Fraser & Shavlik, 2001).

Adaptasi di 2025: Terapkan hara hachi bu (makan hingga 80% kenyang) ala Okinawa.

 Referensi :

  1. Buettner, D. (2008). The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest. National Geographic. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6125071/
  2. Willcox, D. C., Willcox, B. J., & Suzuki, M. (2004). The Okinawa Diet Plan: Get Leaner, Live Longer, and Never Feel Hungry. Clarkson Potter. https://www.amazon.com/Okinawa-Diet-Plan-Leaner-Longer/dp/1400082005
  3. Poulain, M., et al. (2004). Identification of a Geographic Area Characterized by Extreme Longevity in the Sardinia Island. Experimental Gerontology. https://www.researchgate.net/publication/8227896_Identification_of_a_geographic_area_characterized_by_extreme_longevity_in_the_Sardinia_island_The_AKEA_study

4.      Holt-Lunstad, J., et al. (2010). Social Relationships and Mortality Risk: A Meta-analytic Review. PLOS Medicine. https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.1000316

5.      Chrysohoou, C., et al. (2011). Longevity and Diet in Ikaria, Greece. Vascular Health and Risk Management. https://link.springer.com/referenceworkentry/10.1007/978-981-287-080-3_142-1


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Air Hujan sebagai Sumber Air Rumah Tangga di Daerah Kering”

Meningkatkan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus

Apa Itu Tanah? Pengertian, Proses Pembentukan, dan Manfaatnya Bagi Kehidupan