Membaca: Antara Kebiasaan, Kemakmuran, dan Masa Depan Bangsa

 

Membaca Meningkatkan Pengetahuan ( Pexels.com/Mesak Emanuel K )

Di era digital yang serba cepat ini, di mana informasi mengalir deras melalui layar gawai kita, masihkah membaca buku menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun jawabannya cukup memprihatinkan.

Membaca, bagi sebagian besar orang Indonesia, masih dianggap sebagai kegiatan eksklusif. Ia seolah menjadi barang mahal yang hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu. Anggapan ini muncul bukan tanpa alasan. Jika kita jujur melihat realitas keseharian, membeli buku jarang sekali masuk dalam daftar prioritas belanja bulanan keluarga. Buku kalah penting dibandingkan kebutuhan dapur, pulsa, atau bahkan hiburan digital. Akibatnya, budaya membaca pun tumbuh lambat, seperti pohon yang kekurangan air.

Potret Buram Literasi Indonesia

Sayangnya, kondisi ini berkorelasi langsung dengan capaian pendidikan kita di kancah global. Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah studi internasional yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengukur kemampuan matematika, membaca, dan sains siswa berusia 15 tahun, secara konsisten menempatkan Indonesia di posisi bawah.

  • Pada tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara peserta.

  • Pada tahun 2015, posisi Indonesia turun menjadi ke-62 dari 70 negara.

  • Pada tahun 2018, meskipun ada sedikit peningkatan skor, peringkat Indonesia secara umum masih berkutat di 10 besar terbawah (71 dari 77 negara).

Data ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Di peta dunia, kita adalah bangsa besar dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah. Namun dalam hal kemampuan dasar yang menjadi fondasi kemajuan, kita masih tertatih-tatih. Bahkan, kita hanya berada satu atau dua tingkat di atas negara-negara yang mungkin namanya asing di telinga kita. Artinya, kebesaran yang selama ini kita banggakan, jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, lambat laun akan tergerus zaman.

Secercah Harapan di Tengah Kegelapan

Namun, tidak semuanya gelap. Di tengah keprihatinan ini, ada secercah harapan yang mulai terlihat. Gerakan literasi mulai digalakkan di berbagai daerah. Salah satu contohnya adalah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta inisiatif-inisiatif lokal seperti West Java Leader's Reading Challenge (WJLRC) di Jawa Barat.

Di beberapa sekolah, kita mulai melihat fenomena yang menggembirakan: "kutu buku" mulai bermunculan. Anak-anak mulai antusias membaca buku non-pelajaran, bukan karena terpaksa, tetapi karena mereka menemukan kesenangan di dalamnya. Tahap pembiasaan ini sangat penting. Dengan membaca cerita, komik, atau buku pengetahuan ringan, mereka belajar bahwa membaca itu menyenangkan. Perlahan, kebiasaan ini akan merambah ke buku-buku pelajaran pada tahap pengembangan, dan pada akhirnya, literasi akan terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran di kelas.

Fenomena ini membawa dampak yang menarik. Ketika peserta didik mulai ketagihan membaca, pengetahuan mereka meluas melebihi apa yang diajarkan di dalam kelas. Mau tidak mau, suka tidak suka, para guru pun dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Mereka harus membaca lebih banyak, belajar lebih giat, dan mengajar dengan cara yang lebih profesional agar mampu mengimbangi rasa ingin tahu murid-muridnya. Inilah efek domino positif dari gerakan literasi.

Bukan Sekadar Peringkat, Tapi Soal Kemakmuran

Gerakan literasi tentu tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan dukungan semua pihak, terutama orang tua di rumah dan para pemangku kebijakan yang dapat menyediakan akses terhadap buku-buku berkualitas bagi peserta didik. Peran pemerintah daerah, dunia usaha, dan pegiat literasi sangat krusial dalam menghadirkan bahan bacaan yang menarik dan terjangkau.

Mengapa kita harus bersusah payah menumbuhkan budaya baca? Apakah hanya sekadar untuk menaikkan peringkat PISA? Tentu tidak. Lebih dari itu, membaca adalah kunci untuk membuka pintu kemakmuran.

Dalam Al-Qur'an, surat Fathir ayat 29-30, Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."

Ayat ini mengajarkan bahwa aktivitas membaca (dalam konteks ini membaca kitab suci) adalah investasi yang tidak akan merugi. Allah menjanjikan penyempurnaan karunia bagi mereka yang rajin membaca dan mengamalkan ilmunya. Janji ini bersifat universal. Bangsa yang rajin membaca adalah bangsa yang akan mendapatkan "penyempurnaan karunia" dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pada akhirnya, kemakmuran.

Kita bisa melihat contoh nyata dari negara Jepang. Negeri Sakura itu sangat disegani di Asia bahkan dunia dalam hal pengetahuan dan teknologi. Inovasi di Jepang seakan tidak pernah berhenti. Apa rahasianya? Salah satunya adalah budaya membaca yang mengakar kuat. Di kereta, di taman, di kafe, di mana pun kita bisa melihat masyarakat Jepang asyik membaca buku atau komik. Membaca telah menjadi kebutuhan, bukan sekadar hobi.

Membaca: Jembatan Dunia dan Akhirat

Jadi, tidaklah berlebihan jika kita berharap melalui membaca, kita tidak hanya meraih kesuksesan di dunia, tetapi juga kebahagiaan di akhirat. Dunia dalam genggaman karena ilmu yang kita peroleh, dan surga Firdaus menjadi impian yang kita kejar dengan amal dan ilmu.

Mari kita mulai dari sekarang. Jadikan buku sebagai salah satu daftar belanja bulanan keluarga. Ibu-ibu, ayah-ayah, mari sisihkan sedikit rezeki untuk membeli buku bacaan berkualitas bagi anak-anak kita. Lebih dari itu, jadikan membaca sebagai menu harian yang tidak membosankan. Ciptakan momen membaca bersama, diskusikan isi buku, dan tumbuhkan rasa cinta pada huruf dan kata.

Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh kekayaan alamnya semata, tetapi oleh seberapa banyak rakyatnya yang gemar membaca. Selamat membaca, selamat menuai masa depan.

Sumber Referensi:

  1. OECD. (2013). PISA 2012 Results: What Students Know and Can Do – Student Performance in Mathematics, Reading and Science (Volume I). OECD Publishing. (Sumber data PISA 2012).

  2. OECD. (2016). PISA 2015 Results (Volume I): Excellence and Equity in Education. OECD Publishing. (Sumber data PISA 2015).

  3. OECD. (2019). PISA 2018 Results (Volume I): What Students Know and Can Do. OECD Publishing. (Sumber data PISA 2018).

  4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. (Sumber untuk program GLS).

  5. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2017). Buku Panduan West Java Leader's Reading Challenge. Bandung: Dinas Pendidikan Jawa Barat. (Sumber untuk program WJLRC).

  6. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Surat Fathir (35): 29-30. Kementerian Agama RI.

  7. UNESCO. (2021). Global Education Monitoring Report: Non-state actors in education. Paris: UNESCO Publishing. (Data pendukung tentang literasi global).

  8. Kern, Richard. (2000). Literacy and Language Teaching. Oxford: Oxford University Press. (Teori tentang literasi dan pengajaran bahasa).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Air Hujan sebagai Sumber Air Rumah Tangga di Daerah Kering”

Meningkatkan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus

Apa Itu Tanah? Pengertian, Proses Pembentukan, dan Manfaatnya Bagi Kehidupan