Transformasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026: Pergeseran Paradigma Evaluasi Pendidikan dari High-Stakes Testing menuju Asesmen Formatif di Indonesia

Gambar
Dinamika kebijakan evaluasi pendidikan di Indonesia memasuki babak baru dengan diimplementasikannya Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada April 2026. Sebanyak ratusan ribu peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah, yakni kelas VI Sekolah Dasar (SD) dan kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP), akan berpartisipasi dalam asesmen nasional ini. Signifikansi transformasi ini tidak semata-mata terletak pada perubahan nomenklatur dari Ujian Nasional (UN) menjadi TKA, melainkan pada pergeseran paradigma fundamental dalam memaknai fungsi evaluasi pendidikan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara eksplisit menegaskan bahwa TKA dirancang untuk mengubah orientasi evaluasi dari sekadar mengejar nilai (grade-oriented) menjadi instrumen refleksi dan perbaikan mutu pembelajaran (improvement-oriented). Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif transformasi kebijakan TKA 2026, mencakup landasan konseptual, mekanisme implementasi, imp...

Mengenang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya merupakan salah satu momen paling heroik dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa ini bermula dari kedatangan pasukan Sekutu yang berada di bawah bendera AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) ke Jawa Timur. Pada 25 Oktober 1945, Brigade 49 yang merupakan bagian dari Divisi ke-23 Sekutu, dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby, mendarat di Surabaya dengan tujuan awal menjaga keamanan serta melucuti senjata Jepang.

Pesawat Pengebom (Pexels.com/Ruyan Ayten )


Kesepakatan Awal antara Pemerintah Jawa Timur dan Sekutu

Kedatangan Sekutu pada mulanya ditolak oleh pemerintah Jawa Timur karena dikhawatirkan menjadi jalan masuk kembalinya penjajahan Belanda. Setelah dilakukan perundingan antara Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo dan Brigjen Mallaby, disepakati beberapa poin penting:

  • Inggris berjanji tidak melibatkan angkatan perang Belanda.

  • Terjalin kerja sama untuk menciptakan keamanan dan ketentraman.

  • Akan dibentuk contact bureau sebagai wadah komunikasi.

  • Inggris akan melucuti senjata Jepang dan bukan senjata rakyat Indonesia.

Dengan kesepakatan tersebut, Sekutu diperbolehkan memasuki Surabaya.

Pelanggaran Kesepakatan oleh Sekutu

Namun, kenyataannya Inggris melanggar kesepakatan tersebut. Hal ini terlihat pada:

  • Penyerbuan ke Penjara Kalisosok pada 26 Oktober 1945.

  • Pendudukan pangkalan udara Tanjung Perak pada 27 Oktober 1945.

  • Penyebaran pamflet yang memerintahkan rakyat Surabaya menyerahkan senjata.

Tindakan-tindakan tersebut memicu ketegangan. Kontak senjata pun terjadi sejak 27 Oktober 1945 antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu.

Untuk meredakan ketegangan, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta turun langsung ke Surabaya dan melakukan perundingan baru. Hasilnya meliputi:

  • Pamflet dianggap tidak berlaku.

  • Sekutu mengakui keberadaan TKR dan Polisi Indonesia.

  • Pengamanan kota dilakukan bersama.

  • Pangkalan Tanjung Perak dijaga TKR, Sekutu, dan Polisi Indonesia.

Namun, meski perundingan telah disepakati, bentrokan tetap terjadi di beberapa wilayah.

Insiden Jembatan Merah dan Kematian Brigjen Mallaby

Pertempuran besar terjadi di Gedung Bank Internatio di kawasan Jembatan Merah. Pemuda Surabaya mengepung gedung tersebut dan menuntut pasukan Mallaby menyerah, tetapi permintaan itu ditolak. Kontak senjata pun tidak terhindarkan.

Dalam kekacauan pertempuran pada 30 Oktober 1945, Brigjen A.W.S. Mallaby tewas akibat ledakan dan serangan dari jarak dekat. Peristiwa ini kemudian menjadi pemicu kemarahan Inggris.

Ultimatum Inggris dan Penolakan Rakyat Surabaya

Setelah Mallaby tewas, pihak Inggris mengeluarkan ultimatum: rakyat Surabaya harus menyerah dan menyerahkan senjata. Jika tidak, Surabaya akan dihancurkan.

Ultimatum tersebut secara tegas ditolak oleh rakyat dan pemerintah daerah. Penolakan ini disampaikan melalui pidato radio Gubernur Suryo pada 9 November 1945 pukul 23.00 WIB. Dalam pidatonya ia menegaskan:

“Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Kita tetap menolak ultimatum itu!”

Pidato tersebut menggema di seluruh Surabaya dan membangkitkan semangat perlawanan.

Pertempuran 10 November 1945

Pada pagi hari 10 November 1945, pasukan Inggris di bawah komando Jenderal Mansergh melancarkan serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara. Pertempuran berlangsung hebat dan tidak berimbang karena Inggris menggunakan tank, meriam, dan kapal perang modern.

Meski demikian, rakyat Surabaya tidak gentar. Tokoh-tokoh seperti Bung Tomo berdiri di garis depan perlawanan melalui siaran radio yang membakar semangat arek-arek Suroboyo. Selama hampir tiga minggu, rakyat mempertahankan kota dengan senjata seadanya: bambu runcing, senapan rampasan, dan semangat kemerdekaan.

Banyak pejuang gugur, namun perlawanan itu berdampak besar. Dunia melihat bahwa rakyat Indonesia bersungguh-sungguh mempertahankan kemerdekaannya.

Hari Pahlawan: Mengabadikan Semangat Perjuangan

Pertempuran 10 November 1945 meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah bangsa. Atas keberanian rakyat Surabaya, tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Ini merupakan wujud penghargaan atas pengorbanan besar yang menjadi simbol semangat kebangsaan dan tekad untuk tidak kembali dijajah.

Kata Kunci : Hari Pahlawan, Perang 10 Nopember 1945 Surabaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Air Hujan sebagai Sumber Air Rumah Tangga di Daerah Kering”

Meningkatkan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus

Apa Itu Tanah? Pengertian, Proses Pembentukan, dan Manfaatnya Bagi Kehidupan